Karakter Cinta
Jatuh cinta membuat kita merasa harus menumbuhkan perhatian, merasa harus bertanggung jawab, merasa harus hormat di hadapan orang yang kita cintai, dan merasa harus mengetahui segala selok-belok tentang dirinya. Erich From, murid kesayangan Sigmund Freud pernah menuturkan bahwa di dalam cinta itu harus ada empat unsur yang perlu dimiliki, yakni:
Pertama, Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesihatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Termasuk jika kita jatuh cinta dengan mencintai lawan jenis kita, maka segala bentuk perhatian akan kita tunjukkan pada si dia. Kita akan sering menulis namanya, menyebutkan namanya, mungkin diam-diam mengumpul segala fotonya untuk dijadikan koleksi. Apatahlagi dengan berkembangnya teknologi informasi yang membolehkan kita mengintip diarinya melalui celah-celah blog mailnya yang secara langsung akan memaparkan foto-fotonya. Dalam diam kita menjadi secret admirer-nya. Minimal itu. Kerana tujuan mulianya adalah mendapat perhatiannya sebagai seorang kekasih.
Kedua, Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Seorang jejaka atau gadis yang saling jatuh cinta, ia akan berusaha untuk memposisikan bahawa mereka bertanggung jawab terhadap hubungannya. Menjaganya dan merawatnya agar tidak "terlanjur". Mereka yang memahami ajaran Islam, maka jatuh cinta itu bukan untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Sang Pemilik Cinta, yakni Allah Swt. Ia akan menjaga pandangannya, perasaan, hatinya, dan juga aktivitinya agar tidak "terlanjur". Tapi, cinta bukan lagi tanggungjawab jika sepasang remaja yang dilanda cinta itu mengekspresikannya dengan cara yang membuat mereka dibenci Allah SWT, seperti seks bebas misalnya.
Ketiga, Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya (qanaah) objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sesuka hati dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect. Itu sebabnya, sering kali kita mendengar cerita ada orang yang saling jatuh cinta itu meski berbeza etnik, berbeza bahasa, berbeza budaya, bahkan ada yang sampai cinta buta, yakni berbeza agama. Itu kerana, kita merasa bahawa cinta akan melahirkan sikap menerima apa adanya. Wah, jika tak ada filter (saringan) akidah, maka semuanya akan hancur. Tapi, ini kita bicara secara umumnya lho. Bahawa cinta akan melahirkan respect kepada objek yang kita cintai. Benar enggak?
Keempat, Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami selok belok objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau lelaki untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami keperibadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan dalam agamanya. Bukan bermodalkan jatuh cinta je. Eh, kalau kita bicara secara umum pun, sebenarnya ketika kita jatuh cinta, kita akan mencari-cari segala informasi yang bau-bau bacang tentang si dia. Nah, tentu standard yang diinginkan dalam pencarian itu tergantung keperibadian orang yang bersangkutan. Ada yang merasa agama tak perlu menjadi pertimbangan, tapi ada pula yang merasa bahawa agama harus menjadi pertimbangan saat jatuh cinta. Kepada siapa kita harus mencintai. Begitu kan? But, intinya secara umum, cinta memang akan melahirkan rasa ingin tahu untuk menyelidiki si dia yang kita cintai, yang telah membuat kita jatuh hati dan jatuh cinta kepadanya. Setuju?
Sunday, October 31, 2010
Karakter Cinta
Diposkan oleh CHihaya di 2:32 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment