Friday, October 22, 2010

Bedanya PACARAN dan PINANGAN

retrieved from: http://chowvidkeren .blog.friendster .com/2007/ 04/beda-pacaran- beda-pinangan/
Siang itu aku sedang bercengkrama dengan beberapa orang aktivis di sebuah kantin kampus Matahari Terbit, Propinsi Hadiningrat, Negara Rekiblik Ndonez. Sambil menikmati makan siang, kami membicarakan rencana survei untuk sebuah acara daurah di pinggir kota.
Dalam pembicaraan tersebut diperoleh kesimpulan bahwa survei akan dilakukan selepas makan siang. Namun, seorang teman akhwat menyela hasil kesimpulan dan berkata, “Afwan, ana harus izin dulu sama ikhwan ana.”
Sejurus kemudian akhwat tadi langsung merogoh ponselnya dan jari jempolnya lantas memainkan tuts ponsel dengan tangkasnya. Teman teman akhwat tadi pun berubah wajah menjadi cengar-cengir dan tersenyum iri.
Usut punya usut, ternyata sang akhwat sudah dikhitbah (dipinang) oleh seorang ikhwan teman kuliah sekaligus teman seorganisasinya. Status pinangan si akhwat yang sudah menginjak usia satu tahun ternyata juga sudah diketahui oleh ikhwah lainnya. Menurut kabar yang beredar di kalangan para ikhwah, memang si akhwat tadi kerap ditemukan dalam episode-episode pembicaraan ‘intens’ dengan pinangannya di area kantor sekretariat dan sekitarnya. Jika mereka berdua sedang asyik mengobrol, maka ikhwah lainnya otomatis akan terpancing untuk tersenyum-senyum lantaran paham akan status mereka berdua itu.
***
Cerita diatas adalah sebuah contoh konkret akan “sehatnya” pergaulan yang terjadi di kalangan para aktivis kampus. Cerita tadi hanya sepenggal episode yang sempat kurekam dan memang sedang menjadi fenomena hangat di kampus Matahari Terbit, Propinsi Hadiningrat, Negara Rekiblik Ndones (hahaha)… Wallahu a’lam di kampus lainnya.
Jika kita menelaah terminologi khitbah secara syara’, maka ia merupakan sebuah langkah pertama (ingat, langkah pertama!) sebelum terjadinya akad nikah dengan tujuan menambah ketenangan calon pasangan dalam menentukan pilihan. Khitbah identik dengan masa khiyar (penawaran) dalam jual beli. Seperti halnya khiyar dalam jual beli, maka bisa jadi pembeli akan benar-benar membeli barang dagangan atau justru menggagalkannya. Khiyar dan khitbah merupakan proses tersingkapnya niatan antara kedu belah pihak untuk saling mengadakan akad. Jadi khitbah bukanlah akad nikah, sehingga belum merubah ketentuan yang dilarang dalam komunikasi lawan jenis, selain hanya mengikat pasangan agar tidak dikhitbah oleh yang lain.
Nahasnya, banyak diantara kita yang tidak tahu (atau tidak mau tahu) akan adab-adab yang harus dipenuhi dalam sebuah khitbah. Diantara adab tersebut adalah hendaknya kedua calon pasangan tetap harus berperilaku wajar, tetap memosisikan calonnya sebagai non-mahrom serta yang paling penting adalah menutup rapat-rapat status khitbahnya dari pengetahuan orang lain. Rosul Muhammad SAW berujar,
“Umumkanlah nikah dan tutupilah khitbah.” (HR. Sayuti dan Ad-Dailami dari Ummu Salamah)
Nah, fenomena di kampus Matahari Terbit tadi jelas sangat bertentangan dengan bunyi hadits ini. Bukannya menutup rapat-rapat status khitbahnya, yang terjadi justru sebaliknya yaitu dengan bangganya sang calon pengantin mengumumkan status khitbah yang disandangnya kepada teman-temannya. Entahlah apa tujuan orang-orang seperti ini yang justru dengan bangganya menunjukkan status khitbanya. Apakah ia sengaja bersikap pamer supaya teman-temannya menjadi jealous, ataukah ia sedang berusaha menunjukkan kepada teman-temannya bahwa ternyata dirinya juga “laku” dan ada yang mau “beli”? Wallahu a’lam. Yang jelas jika di awal proses pernikahannya saja sudah terjadi pelanggaran yang bersifat prinsipil seperti itu, maka aku akan sangat menaruh curiga akan berbarokahnya pernikahan yang dilakukannya kemudian.
Jika pinangan sudah diketahui oleh khalayak ramai dan jangka waktunya pun ternyata juga sudah satu atau dua tahun, ditambah lagi dengan interaksi antara kedua calon pasangan yang begitu intens-nya, maka apa bedanya proses seperti ini dengan pacaran?
Dalam pinangan, status kedua calon pasangan biasanya sudah diketahui oleh keluarga mereka berdua. Namun, demikian halnya pula yang terjadi dalam pacaran. Pasangan kekasih yang berpacaran
biasanya juga memperkenalkan kekasihnya kepada pihak keluarga masing-masing. Ciri berikutnya dalam pacaran adalah komunikasi yang terjadi antara pasangan yang bersifat intens dan mesra. Nah, sekarang kalau kita melihat fenomena yang terjadi dalam kasus akhwat diatas, maka sepertinya hubungan khitbahnya sudah dapat digolongkan sangat mesra. Bayangkan, jika hanya mau pergi untuk survei lokasi saja harus sms-an sama pinangannya, apakah ini bukan mesra? Lantas, apa sih hak ikhwan pinangannya? Apakah jika tidak diizinkan pergi maka akhwat tadi juga tidak akan pergi? Emang siapa sih ikhwan tadi, suaminya? He-eh, gaswaat ini!
Yah begitulah the amazing phenomenon yang terjadi di kalangan para aktivis. Bukannya aku mau sok suci neh, tapi mbokya kalau mau berproses itu ya sudah seharusnya tahu ilmunya dulu. Al ‘ilmu qobla qoul wa ‘amal, ilmu itu harus ada dahulu sebelum berbicara dan berbuat. Jangan sampai lantaran kebodohan kita, niatan untuk mengamalkan sunnah pernikahan justru menjadi pintu penebar fitnah. Gimana coba jika versi khitbah ala akhwat tadi dicontoh oleh kader-kader atau yunior-yunior yang lainnya, apa ini bukan fitnah yang sangat
merusak?
Satu hal yang membuat hatiku terasa teriris-iris adalah tatkala melihat fenomena diatas ternyata terjadi di kalangan para aktivis kampus yang notaben berwajah alim, berbaju koko, berjidat hitam, bercelana congkrang, menjaga pandangan, dan… wah pokoknya seabreg jubah kealiman dech yang disandang mereka. Memang, orang-orang ‘awam yang gaul sepertiku ini mungkin sangat buruk di mata orang-orang ‘alim tadi yang setiap harinya halaqoh, ta’lim dan kumpul di sekretariat untuk membicarakan dakwah. Namun, di mataku orang-orang yang menggunakan jubah-jubah kesalehan spiritual demi mencapai keinginan duniawi dan inderawi adalah lebih buruk lagi hina dina.
“Barangsiapa yang menuntut ‘ilmu yang sebenarnya dengan ‘ilmu itu Allah akan memberikan kepadanya pintu surga, namun ternyata ia tidak mencari ‘ilmu itu melainkan hanya untuk sekedar mencapai keinginan dunia, maka sekali-kali ia tidak akan dapat mencium baunya sorga”

0 komentar:

Post a Comment

my mixpod

By :
Free Blog Templates