Sunday, October 31, 2010

Karakter Cinta

Karakter Cinta

Jatuh cinta membuat kita merasa harus menumbuhkan perhatian, merasa harus bertanggung jawab, merasa harus hormat di hadapan orang yang kita cintai, dan merasa harus mengetahui segala selok-belok tentang dirinya. Erich From, murid kesayangan Sigmund Freud pernah menuturkan bahwa di dalam cinta itu harus ada empat unsur yang perlu dimiliki, yakni:

Pertama, Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesihatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Termasuk jika kita jatuh cinta dengan mencintai lawan jenis kita, maka segala bentuk perhatian akan kita tunjukkan pada si dia. Kita akan sering menulis namanya, menyebutkan namanya, mungkin diam-diam mengumpul segala fotonya untuk dijadikan koleksi. Apatahlagi dengan berkembangnya teknologi informasi yang membolehkan kita mengintip diarinya melalui celah-celah blog mailnya yang secara langsung akan memaparkan foto-fotonya. Dalam diam kita menjadi secret admirer-nya. Minimal itu. Kerana tujuan mulianya adalah mendapat perhatiannya sebagai seorang kekasih.

Kedua, Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Seorang jejaka atau gadis yang saling jatuh cinta, ia akan berusaha untuk memposisikan bahawa mereka bertanggung jawab terhadap hubungannya. Menjaganya dan merawatnya agar tidak "terlanjur". Mereka yang memahami ajaran Islam, maka jatuh cinta itu bukan untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Sang Pemilik Cinta, yakni Allah Swt. Ia akan menjaga pandangannya, perasaan, hatinya, dan juga aktivitinya agar tidak "terlanjur". Tapi, cinta bukan lagi tanggungjawab jika sepasang remaja yang dilanda cinta itu mengekspresikannya dengan cara yang membuat mereka dibenci Allah SWT, seperti seks bebas misalnya.

Ketiga, Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya (qanaah) objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sesuka hati dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect. Itu sebabnya, sering kali kita mendengar cerita ada orang yang saling jatuh cinta itu meski berbeza etnik, berbeza bahasa, berbeza budaya, bahkan ada yang sampai cinta buta, yakni berbeza agama. Itu kerana, kita merasa bahawa cinta akan melahirkan sikap menerima apa adanya. Wah, jika tak ada filter (saringan) akidah, maka semuanya akan hancur. Tapi, ini kita bicara secara umumnya lho. Bahawa cinta akan melahirkan respect kepada objek yang kita cintai. Benar enggak?

Keempat, Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami selok belok objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau lelaki untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami keperibadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan dalam agamanya. Bukan bermodalkan jatuh cinta je. Eh, kalau kita bicara secara umum pun, sebenarnya ketika kita jatuh cinta, kita akan mencari-cari segala informasi yang bau-bau bacang tentang si dia. Nah, tentu standard yang diinginkan dalam pencarian itu tergantung keperibadian orang yang bersangkutan. Ada yang merasa agama tak perlu menjadi pertimbangan, tapi ada pula yang merasa bahawa agama harus menjadi pertimbangan saat jatuh cinta. Kepada siapa kita harus mencintai. Begitu kan? But, intinya secara umum, cinta memang akan melahirkan rasa ingin tahu untuk menyelidiki si dia yang kita cintai, yang telah membuat kita jatuh hati dan jatuh cinta kepadanya. Setuju?

Saat-saat jatuh Cinta

Saat-saat jatuh Cinta

Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti bahagia bukan? Terasa terang dunia. Bahkan hari-hari yang dilalui pasti terasa sungguh nikmat alias happy kan? Rasanya tidak lengkap jika tidak menceritakan kepada teman-teman, bahawasanya kita sedang jatuh cinta. Agar mereka juga dapat merasakan apa yang kita rasakan tentang arti hidup yang diiringi cinta. Jika berpeluang, setiap saat dan waktu kita berasa senang jika menceritakan tentang si dia, bahwa kita sedang mencintainya walau dia tidak tahu bahwa kita sedang mencintainya dengan segunung harapan dan cita-cita. Ketika itu, kita begitu yakin untuk mencari jalan agar dapat mendekati si dia.

Anda kenal apa itu Cinta? Di sekitar kita, sudah terlalu banyak lagu digubah, puisi ditulis, dan kanvas dilukis untuk menggambarkan cinta. Tapi apakah cinta itu sebenarnya? Tentunya seorang pelukis akan berbeda dengan seorang pencipta lagu dalam menjelaskan cinta. Bahkan setiap orang akan mendefinisikan cinta dengan cara dan metodologi yang berbeda. Iya lumrah bukan?

Sahabatku sekalian...mengapa kita berasa senang dan bahagia ketika sedang jatuh cinta (atau lebih tepatnya sedang dilamun cinta)? Menurut Robert Stenberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan keperibadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, baik pengalaman (al-maklumatu as-tsabiqoh) tersebut melalui orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan. (http://e-psikologi.com, pada pembahasan tentang “Cinta”)

Ketika jatuh cinta, kita tiba-tiba merasakan dorongan ingin bertemu dengan orang yang kita cintai. Dorongan itu bahkan sangat kuat menekan dan bergejolak tatkala ada orang yang membicarakan si dia, atau ada orang yang menyebutkan namanya, lebih lucunya ketika membaca tulisan yang kemudian menuliskan sebuah nama yang sama dengan nama orang yang kita cintai (jangan tipu, dengan mengatakan tidak!). Kita jadi rindu dan teringin untuk bertemu, atau sekadar ingin berkomunikasi dengannya. BTW, pernah melalui perasaan ini tidak? Jika tidak, koreksi diri status anda dulu, hehe...

Tapi anehnya, sering kali juga merasa harus "jual mahal" alias jaga imej. Walaupun ketika itu, cinta yang menebal mendorong kita untuk mencurahkan cinta kepada si dia. Lucu memang lucu, tapi itulah hakikatnya. Ini berarti, jatuh cinta itu sebenarnya memang unik. Tapi dengan catatan, jika sang pencinta itu adalah seorang yang pemalu... tapi kebiasaannya memang semuanya malu kan? Meskipun zaman sudah berubah keadaan dan prasananya, tapi cinta sememanya tidak mudah dilafazkan. Kecuali bagi mereka yang kurang harga diri, dan terlalu gentlemen.

Sahabatku sekalian... ketika jatuh cinta, kita seolah-olah berubah menjadi orang yang lembut (bukan pondan) dan peramah. Kita mula belajar cara bertutur kata dan mengatur pilihan kata yang cermat saat berbicara. Terutama apabila kita berbicara dengan si dia yang telah membuat kita jatuh cinta. Itu kita lakukan adalah untuk mendapat perhatiannya. Untuk memberi imej bahawa kita amat baik orangnya di hadapan si dia. Pada akhirnya, adalah tidak mustahil bahawa kita akan meraih simpati dari si dia. Awalnya memang simpati, siapa tahu lama-kelamaan ia berubah menjadi empati dan akhirnya berevolusi kepada jatuh hati. Tidak mustahil bukan?

Bila Aku Jatuh Cinta

Bila Aku Jatuh Cinta
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !

BAGAIMANA PACARAN MENURUT ISLAM ? (1)


Pada pembahasan sesion ini kita akan mengangkat masalah pacaran. Pacaran yang sudah merupakan fenomena mengejala dan bahkan sudah seperti jamur dimusim hujan menjadi sebuah ajang idola bagi remaja . Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan  hidup di dunia apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis bahkan kalo orang bilang bila orang udah cinta maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak menjerumuskan kaum muslimin ke dalam jurang kenistaan manakala tidak berada dalam jalur rel yang benar. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang dibolehkan dan mana yang dilarang.
Kehidupan seorang muslim atau muslimah tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan " Lha kalo nggak pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita ?". kalo dikatakan pacaran itu haram akan dikatakan, " pacaran yang gimana dulu.". Beginilah keadaan kaum muda sekarang, racun syubhat, dan racun membela hawa nafsu sudah menjadi sebuah hakim  akan hukum halal-haram, boleh dan tidak. Tragis memang kondisi kita ini, terutama yang muslimah. Mereka para muslimah kebanyakan berlomba-lomba untuk mendapatkan sang pacar atau sang kekasih, apa sebabnya, " Aku takut nggak dapat jodoh ". Muslimah banyak ketakutannya tentang calon pendamping, karena mereka tahu bahwa perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1 : 5. Tapi apakah jalan pacaran sebagai penyelesaian ? Jawabnya Tidak. Bagaimana bisa, kita ikuti selengkapnya pembahasan ini sebagai berikut, ( diambil dari buku Pacaran dalam Kacamata Islam karya Abdurrahman al-Mukaffi)
Dikatakan beliau bahwa  pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan
Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut :
  1. Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling memerlukan.
  2. Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.
  3. Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.
Tapi tanpa disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta makin tinggi. Di sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Hingga kebencian menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap kehormatan secara haram.
Tak ubahnya seperti apa yang dinginkan oleh seorang pemuda untuk memadu cinta dengan dara jelita kembang desanya. dalam pandangannya sang dara tampak begitu sempurna. Higga kala itu pikiran pun hanyut, malam terkenang, siang terbayang, maka tak enak, tidur pun tak nyenyak, selalu terbayang si  dia yang tersayang. Hingga tunas kerinduan menjamur menggapai tangan, menggelitik sambil berbisik. Bisikan nan gemulai, tawa-tawa kecil kian membelai, canda-canda hingga terkulai, karena asyik, cinta pun telah menggulai. Menggulai awan yang mengawang, merobek cinta yang tinggi membintang, hingga luka mengubur cinta....

Friday, October 22, 2010

Warisan Alquran : Mukjizat Buah Anggur

''Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS: An Nahl: 11)

Aneka ragam buah-buahan segar diciptakan Sang Khalik untuk umat manusia. Di antara sekian banyak buah-buahan itu, salah satu yang disebutkan Allah SWT dalam Alquran dalah anggur. Buah yang rasanya lezat itu, disebutkan dalam Alquran sebanyak 14 kali.

"Ini menunjukkan bahwa betapa banyak nikmat yang Allah berikan dan sediakan untuk umat-Nya, baik ketika masih di dunia maupun kelak nanti di kehidupan abadi, yaitu surga bagi orang-orang yang bertakwa," ujar Hisham Tahlbah dalam karyanya bertajuk Al-I'jaz Al Ilmi fi Alquran wa al sunnah (Ensiklopedia Mukzijat Alquran dan Hadis) yang telah dialihbahasakan kedalam bahasa Indonesia. Anggur merupakan salah satu tanaman yang dikenal umat manusia sejak lama. Menurut Thlbah, anggur sudah dikenal sejak masa Nabi Nuh AS.

Tanaman yang berbuah manis dan lezat itu tumbuh merambat ke atas, berlawanan arah dengan ujung kuncupnya, dan searah dengan penopang anggur.

"Anggur juga telah diketahui oleh orang-orang kuno sebagai tanaman berkhasiat tinggi dan memiliki manfaat sangat banyak. Kesimpulannya, anggur adalah salah satu buah yang paling banyak manfaatnya," tutur Tahlbah.

Buah anggur ini, sangat baik untuk dimakan, baik ketika masih segar ataupun sudah kering. Anggur merupakan buah yang mudah dicerna, dapat menggemukan, dan dapat menyuplai gizi yang yang cukup. Anggur hijau maupun merah memiliki khasiat yang sama, keduanya bisa dimanfaatkan untuk menjadi buah, makanan, minuman, maupun sebagai obat.

Hal senada juga dituturkan Ibnu Qayyim. Menurutnya, anggur adalah salah satu buah-buahan yang memiliki banyak manfaat. "Anggur adalah salah satu buah dari sekian banyak buah, salah satu makanan bergizi dari sekian banyak makanan bergizi, salah satu obat dari sekian banyak obat, atau salah satu minuman dari sekian banyak minuman," ungkap Ibnu Qayyim.

Sebagai obat, anggur memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Tahlbah mengungkapkan, anggur diyakini bisa mengobati batuk, memurnikan darah, membersihkan usus, pencernaan, bahkan bermanfaat untuk orang-orang yang terkena penyakit lambung. Tak hanya itu, anggur juga bisa dimanfaatkan bagi siapa saja yang henda melakukan diet (mengatur pola makanan).

Thalbah menjelaskan dalam buku-buku pengobatan pernafasan, anggur juga memiliki manfaat sebagai obat untuk mendukung pengobatan pernafasan. Untuk mendukung pengobatan tersebut, anggur diolah menjadi minuman yang berupa jus anggur. "Perasan air anggur juga berkhasiat menurunkan panas tubuh, menghentikan batuk, dan membuat perut merasa nyaman," papar Tahlbah.

Jus anggur, menurut dia, bisa membantu penyembuhan dari penyakit hemaroid (wasir), gangguan pencernaan, batu ginjal dan gangguan kantong empedu. Untuk itu, para peneliti menganjurkan untuk meminum segelas jus anggur, sebelum sarapan dan sebelum makan malam.

Bahkan meminum segelas anggur sebelum tidur juga bisa membantu anda untuk tidur nyenyak tanpa insomnia yang mengganggu. Jus anggur juga baik untuk orang-orang yang keracunan, keletihan atau dalam masa penyembuhan atau terkena batu ginjal (kencing batu).

Menurut para peneliti, jus anggur harus segera diminum setelah pembuatannya, karena jika didiamkan terlalu lama akan berubah menjadi arak yang memabukkan. "Dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti," (QS Al-Nahl (16) ayat 67).

Anggur juga bisa digunakan sebagai cairan pelembab kulit muka dan untuk bahan kosmetika. Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi atau akrab disapa Ibnu al-Baitar (1197 M – 1248 M) menuturkan bahwa anggur yang baik adalah anggur yang berukuran besar, berkulit tipis, berbiji jarang, dan berwarna agak kemerah-merahan. Menurutnya anggur adalah buah yang paling diminati.

"Ia juga tergolong paling baik dibandingkan buah-buahan lainnya, karena mengandung banyak lemak. Ia dapat menggemukan orang yang kurus, membersihkan darah, dan memperlancar saluran pencernaan. Anggur juga bermanfaat untuk meningkatkan libido, memulihkan orang yang sakit, dan menguatkan jantung," jelas Ibnu Baithar, ahli botani Muslim terkemuka di era kejayaan Islam di Andalusia.

Anggur muda atau anggur yang masih segar, lanjut Tahlbah, memiliki manfaat dapat memampatkan darah yang terus menerus mengalir keluar (pendarahan), menguatkan lambung, memperlancar saluran pencernaan, dan mengatasi masalah usus besar.

"Dari beberapa penelitian diperoleh kesimpulan bahwa anggur adalah buah yang memiliki banyak manfaat. Anggur sangat efektif dalam membangun, memperbaiki, dan memperkuat sel-sel tubuh. Ia juga dapat mengobati sejumlah penyakit. Selain mengobati anggur juga berfungsi untuk melindingi manusia dari serangan penyakit," tandas Tahlbah.

Fakta ini menunjukkan betapa buah-buahan yang disebutkan Sang Khalik dalam Alquran memiliki khasiat dan kegunaan yang luar biasa. Inilah salah satu bukti kemukjizatan ayat-ayat suci Alquran.


Anggur, Berlimpah Manfaat

Anggur yang kering disebut kismis. Kismis yang baik biasanya berukuran besar, berlemak, dan banyak mengandung minyak, juga berkulit tipis dan bijinya sedikit. Menurut Hisham Tahlbah dalam karyanya bertajuk Ensiklopedia Mukzijat Alquran dan Hadis, kismis yang seperti itu kaya kandungan gizi.

"Jika dimakan bijinya akan memberi manfaat yang banyak untuk pencernaan, hati dan limfa," katanya. "Jika daging anggur ditempelkan pada ke kuku yang mau lepas, maka akan mempercepat proses pelepasannya."

Tahlbah menambahkan, kismis juga dapat mempersubur hati, selain juga bermanfaat untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorokan, dada, paru-paru, ginjal, dan kandung kemih. Menurut dia, jika anggur yang segar cocok dimakan pada akhir musim kemarau atau gugur, maka anggur kering/kismis cocok dikonsumsi selama musim hujan, karena mampu menjaga kandungan yang ada ketika masih segar (vitamin).

Kandungan Anggur

Dalam surat Abasa ayat 27-29 Allah SWT berpirman, "Lalu kami tumbuhkan biji-bijian, anggur, dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma (di bumi itu)." Sang khalik menciptakan anggur di bumi, dengan memberikan begitu banyak manfaat bagi umat manusia.

Tahlbah menjelaskan, buah anggur mengandung kadar gula mencapai 15 persen yang terdiri dari glukosa sekitar tujuh persen. Kadar tersebut akan semakin tinggi seiring usia kematangan buah. "Dengan demikian anggur termasuk buah dengan kandungan gula yang sedang, dan mudah dicerna serta diserap oleh tubuh," ujar Tahlbah.

Selain kadar gula, lanjut Tahlbah, anggur juga mengandung protein sebesar 1,5 persen dan lemak sebesar 1,5 persen. "Anggur mengandung zat gula yang sangat dibutuhkan hati, sehingga ketika ia membutuhkan pasokan gula seperti ketika puasa, anggur bisa dijadikan sebagai pemasoknya," paparnya.

Kulit anggur mengandung vitamin B Kompleks yang berfungsi dalam proses biologis tubuh manusia. "Vitamin B kompleks sangat penting untuk perlindungan urat-urat tubuh.'' Anggur juga mengandung vitamin C yang berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan memperkecil kemungkinan tubuh terserang oleh mikroba dan bakteri.


Penanaman Pohon Anggur dalam Alquran

Alquran juga mengatur tentang tata cara penanaman pohon anggur. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan anggur. Allah SWT berfirmankan dalam Alquran surat Al-Kahf ayat 32.

"Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. (QS Al Kahfi: ayat 32)

Dari ayat tersebut bisa dijabarkan faktor-faktor tersebut. Pertama adalah faktor tanah. Tanah merupakan faktor utama yang berpengaruh besar atas berkembangnya buah-buahan pada umumnya dan anggur pada khususnya. Tanah ini menyebabkan tumbuhan dapat hidup dan mengambil semua kebutuhan makanannya.

Selain itu, tumbuhan juga bergantung pada faktor lain, seperti temperatur, kelembaban, angin dan cahaya. Faktor-faktor tersebut berpengaruh langsung pada pertumbuhannya. "Semua faktor tersebut dapat terpenuhi dengan baik, maka kualitas dan kuantitas anggur dapat meningkat. Begitu juga perubahan cuaca dan musim yang ikut mempengaruhi kematangan anggur," kata Tahlbah.

Penanaman anggur yang baik bisa dilakukan dengan cara menutup tanah, melindungi akar anggur dari kekeringan, terkena sinar dan panas matahari secara langsung. Allah juga dalam firmannya menganjurkan pentingnya mendirikan pagar disekeliling kebun anggur untuk mencegah tercabutnya pohon anggur dan badai yang bisa menghancurkannya.

Selain itu dibutuhkan pula tanaman yang dapat melindungi dari terpaan cahaya. Hal tersebut telah dijelaslkan Allah Swt dalam Alquran surat Al-Kahf ayat 32, Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma.

Ayat tersebut juga menjelaskan mengenai pentingnya pemeliharaan akar tumbuhan dari panas dan sinar matahari yang menerpa langsung. Allah SWT juga berfirman, dalam surat Al-Israa ayat 91 "Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya.''. she/taq/RioL

Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik

Judul Buku: Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik
Penulis: Martin Lings

Penerbit: Serambi, April 2007

Halaman: 668 Halaman

Judul Asli: Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, diterbitkan oleh The Islamic Texs Society, Cambridge, United Kingdom 1991

oleh Rusdi Mathari

SEHARI setelah tulisan Mohamad Guntur Romli berjudul Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen dimuat Kompas pada Sabtu 1 September 2007, wartawan senior, Bambang Bujono mengirim pesan pendek ke ponsel saya: “Sudah baca tulisan Guntur di Kompas?.” Saya paham, melalui pesan pendek itu, mas Bambu, begitu saya biasa memanggilnya— meminta saya untuk memberikan tanggapan, minimal tanggapan untuk mas Bambu pribadi. Saya telah membaca tulisan Guntur, dan menduga akan banyak reaksi yang berlebihan terhadap tulisan tersebut. Mungkin karena predikat Guntur sebagai aktivis Jaringan Islam Liberal, barangkali pula karena isinya yang dianggap tidak sesuai dengan arus besar “keinginan” umat Islam yang membacanya. Dugaan saya terbukti, setidaknya di beberapa milis yang saya ikuti, seperti Jurnalisme, banyak peserta milis yang protes. Beberapa di antaranya menyatakan agar Kompas, memuat juga tulisan yang membantah tulisan Guntur. Tapi tak ada usul dari peserta beberapa milis itu siapa yang harus membantah Guntur. Sedangkan, menurut saya, para pemrotes itu hanya bisa protes, tak berargumen dalam bentuk tulisan seperti yang dilakukan Guntur.

Bagi saya yang dibesarkan di Situbondo oleh tradisi pesantren NU, berpendidikan formal Muhammadiyah, dan mendapat banyak bacaan dari majalah Al Muslimin yang diterbitkan oleh Persis, Bangil; tulisan Guntur sebenarnya termasuk “kuno”, tidak perlu direspon secara reaktif apalagi berlebihan. Sumber-sumber rujukan yang menjadi dasar tulisan Guntur adalah sumber klasik, yang tak banyak dibaca untuk tidak menyebut rujukan itu dihindari oleh kebanyakan umat Islam. Dalam beberapa hal, tulisan itu sebagian juga mengambil dari Muhammad: His Life Based on the Earliset Source (1991) yang ditulis oleh Martin Lings, seorang sejarawan Inggris. Buku yang dipersembahkan Lings untuk Zia ul Haq, bekas Presiden Pakistan, itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Qomarudin dan diterbitkan oleh Serambi dengan judul Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Oleh Republika buku ini dinilai luar biasa dan menyentuh.
Lings yang pernah bekerja sebagai asisten Penjaga Naskah dan Buku-Buku Ketimuran pada British Museum, mengungkap lebih lengkap, tentang hubungan kaum cerdik pandai kaum Kristen dengan Muhammad (semoga Allah memberinya rahmat dan kesejahteraan) meskipun kemudian argumen Lings dianggap sepi oleh kaum Kristen. Informasi tentang kenabian Muhammad menurut Lings sebenarnya sudah jelas, baik melalui risalah kitab suci (al Quran dan Injil) maupun sumber-sumber klasik: tidak pernah berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh keturunan, lingkungan, dan tentu saja campur tangan Tuhan. Tiga faktor itu, langsung dan tidak langsung telah menempatkan Muhammad sebagai nabi.

Dari garis keturunan, Muhammad adalah salah satu keturunan Ibrahim melalui Ismail. Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar budak Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Ismail sendiri berarti “Tuhan telah mendengar”. Menjelang setahun setelah kelahiran Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail diminta meninggalkan Kanaan. Genesis mengabadikan peristiwa yang dialami oleh Ismail dan Hajar melalui Kitab Kejadian pasal 21. Dalam ayat 10, Injil mengungkapkan, “Usirlah perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba itu akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku, Ishak.” Pada ayat 17 disebutkan, “Apakah yang engkau susahkan, Hajar? Jangan takut sebab Allah telah mendengar anak itu dari tempat ia terbaring.” Di dalam ayat 20, Ismail dikisahkan oleh Genesis menetap di gurun dan juluki sebagai pemanah (Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 1990). Nama Ismail setelah itu tak pernah disebutkan oleh Genesis kecuali dalam Mazmur pasal 84 ayat 7, yang secara tidak langsung memuji Ismail dan ibunya.

Bakaah dalam Bahasa Arab adalah Mekah. Dan di Mekah Ismail menurunkan banyak suku bangsa, yang terkuat adalah suku Fihr. Suku ini keturunan langsung Ismail dari jalur laki-laki, dan kemudian dikenal sebagai suku Quraisy. Adapun keturunan Ismail dari jalur perempuan disebut sebagai suku Quraisy Pinggiran. Karena pengaruhnya yang kuat, Quraisy dipercaya menjadi pemegang kekuasaan atas Mekah: melayani para peziarah yang datang ke Ka’bah. Sekitar empat abad setelah Masehi, Qushay seorang laki-laki Quraisy menikahi perempuan bernama Hulayl, keturunan Quraiy Pinggiran. Pernikahan itu membuahkan empat anak laki-laki, salah satunya diberi nama Abdul Manaf. Setelah menikah, Abdul Manaf mempunyai empat anak lelaki; Abdu Syams, Hasyim, Al Muththalib, dan Naufal.

Keliru besar jika ada yang menganggap Muhammad adalah keturunan langsung Al Muththalib. Muththalib dalam hal ini hanyalah kakek buyut tidak langsung dari Muhammad, karena kakek buyut Muhammad yang langsung adalah Hasyim saudara Muthathalib. Selain berkuasa atas Mekah, Hasyim inilah yang membangun dua rute perjalanan kafilah besar dari Mekah: kafilah musim dingin ke Yaman dan kafilah musim panas ke barat laut Arab. Di antara dua musim itu, rutenya diarahkan ke Palestina dan Syiria yang pernah menjadi jajahan Romawi dari Eropa. Salah satu pemberhentian utama dari kafilah musim panas adalah Yastrib (Madinah). Kendati mayoritas suku di sana adalah Arab, banyak kaum Yahudi yang menetap di Yastrib. Mereka menguasai oasis, dan tetap menjalankan agamanya sendiri, di luar kepercayaan pagan yang dianut hampir oleh sebagian besar suku Arab. Salah suku bangsa Yahudi yang berada di kota itu adalah Khazraj.

Hasyim menikahi Salmah, salah seorang perempuan dari suku Khazraj yang berpengaruh pada sukunya. Meskipun dari istri-istrinya yang lain Hasyim dikaruniai tiga putra, tidak ada yang lebih terkenal dibanding Syaibah, putra Hasyim dari perkawinannya dengan Salmah. Tidak seperti putra Hasyim yang lain yang tinggal di Mekah, Syaibah menetap di Yastrib bersama ibunya. Namun kepandaian Syaibah terdengar hingga di Mekah. Ketika Hasyim menyerahkan kekuasaan Mekah kepada Muththalib, sang adik, Muththalib lalu berinisiatif memungut Syaibah, keponakannya itu, untuk tinggal di Mekah. Karena Syaibah diboyong ke Mekah menggunakan unta milik Muththalib, orang-orang di Mekah lalu memanggil-manggil Syaibah dengan panggilan Abd al-Muththalib atau “budak Muththalib”. Sejak itulah, Syaibah menetap di Mekah dan dikenal dengan nama Abdul Muththalib.

Tentang Kaum Hanif

Dari Abdul Muththalib inilah, sejarah Mekah dan juga sejarah Muhammad, kelak banyak dicatat oleh al Quran dan juga oleh sejarah. Dia memiliki tiga belas anak laki-laki dan enam anak perempuan hasil dari pernikahannya dengan beberapa perempuan. Abd Allah, ayah Muhammad, adalah salah satu dari tiga belas putra Abdul Muththalib itu. Nama-nama lain dari putra Abdul Muththalib yang juga terkenal adalah Harits, Zubair, Hamzah, Abbas, Abu Lahab (musuh utama Muhammad dalam penyebaran Islam di Mekah), dan Abu Thalib (ayah dari Jafar dan Ali).

Ada kisah menarik, ketika Abd Allah akan dinikahkan dengan Aminah dari Bani Zuhra. Dalam perjalanan menuju puak itu, Abd Allah bersama Abdul Muththalib harus melewati daerah yang dihuni oleh Bani Asad, salah satu klan dari Quraisy. Bani ini, termasuk salah satu klan yang tetap mempertahankan kepercayaan Ibrahim di tengah masyarakat Quraisy yang pagan. Nama-nama yang terkenal dari klan ini adalah Khadijah, Waraqah, dan Qutaylah. Pada saat dua lelaki Quraisy itu melintas di wilayah Bani Asad itulah, Qutaylah (saudara perempuan Waraqah) berdiri di depan pintu rumahnya. Qutaylah memperhatikan kedua ayah-anak itu, namun perhatian utamanya tertuju kepada Abd Allah, laki-laki berusia 25 tahun.

Bukan baru sekali itu Qutaylah memperhatikan lelaki lewat. Tapi kali ini Abd Allah menarik perhatiannya secara istimewa. Memang, dalam hal ketampanan, Abd Allah adalah Yusuf pada zamannya. Tapi, bukan itu yang menarik Qutaylah. Muhammad ibn Ishaq di dalam buku Sirah Rasul Allah, Kehidupan Nabi edisi Wustendfeld, menggambarkan pada saat itu Qutaylah melihat cahaya pada wajah Abd Allah yang seolah memancar dari luar dunia. Qutaylah lalu tak bisa menahan diri untuk tidak menyapa dua lelaki itu dan kepada Abd Allah, dia menyatakan secara terus terang keinginannya: agar Abd Allah memilihnya sebagai istri. Mendapat “lamaran” yang tak disangka, Abd Allah hanya mampu menjawab bahwa dirinya menuruti ayahnya dan harus menikahi Aminah.
Sehari setelah pernikahan Abd Allah dengan Aminah, Abd Allah kembali bertemu dengan Qutaylah. Perempuan itu tak menyapa Abd Allah meski matanya menatap tajam. Ketika ditanya oleh Abd Allah ada apa, Qutaylah menjawab “ Cahaya yang ada padamu kemarin telah hilang. Hari ini engkau tak lagi bisa memenuhi harapanku.” Pernikahan itu berlangsung pada tahun 569 Masehi dan tahun setelah itu dikenal sebagai Tahun Gajah, tahun ketika Muhammad dilahirkan.

Mengapa Qutaylah meminta Abd Allah untuk menjadi suaminya? Kendati sebagian besar suku Arab seperti Khuzaah, Hawazin, dan juga sebagian dari suku Quraisy adalah kaum pagan, sebagian kecil di antara mereka tetap mempertahankan agama Ibrahim atau setidaknya lebih dekat ke agama itu. Klan Hasyim dan Abdul Muththalib adalah salah satu di antara suku Qurays yang mempertahankan agama Ibrahim: tidak melakukan ritual penyembahan kepada berhala. Di luar mereka, Bani Asad termasuk klan yang menegakkan agama Ibrahim secara murni ,jauh dari sikap tradisional. Mereka dikenal sebagai kaum hanif atau ortodok yang menganggap berhala-berhala yang ada di Mekah najis dan menimbulkan polusi. Istilah hanif yang digunakan oleh Lings berbeda dengan yang digunakan oleh Guntur. Guntur menunjuk hanif untuk Bani Hasyim.

Penolakan mereka untuk berkompromi terhadap pemujaan berhala dan seringnya mereka bicara terang-terangan tentang agama Ibrahim, menyebabkan mereka menjadi golongan pinggiran dalam masyarakat Mekah. Abdul Muththalib mengenal salah satu dari kaum hanif itu, yaitu Waraqah, yang bersama kaumnya, Bani Asad, memeluk agama Kristen. Kaum inilah yang meyakini bahwa akan datang seorang nabi setelah Isa. Meskipun kepercayaan mereka tidak tersebar secara luas, mereka didukung oleh satu atau dua aliran besar gereja timur dan juga para astrolog dan para peramal. Mengenai kaum Yahudi –karena menurut mereka garis kenabian baru berakhir pada Mesias– hampir seluruhnya sepakat mengharapkan seorang nabi. Pendeta dan para rahib Yahudi meramalkan bahwa tanda-tanda kedatangan seorang nabi telah tiba, dan tentu saja nabi tersebut adalah seorang Yahudi, karena mereka mengklaim diri mereka sebagai bangsa pilihan.
Adapun kaum Kristen termasuk Waraqah meragukan hal itu. Mereka tidak melihat alasan mengapa nabi terakhir itu harus bukan Arab. Bangsa Arab di mata mereka lebih membutuhkan seorang nabi ketimbang kaum Yahudi, yang setidaknya masih mengikuti agama Ibrahim dan hanya menyembah satu Tuhan dan tidak menyembah berhala. Tidak ada yang bisa meluruskan bangsa Arab dan kesalahan agama mereka kecuali seorang nabi.

Ka’bah sebagai pusat Mekah dikelilingi 360 berhala. Jumlah itu belum termasuk berhala-berhala kecil dan besar yang disimpan di setiap rumah di Mekah sebagai penjaga rumah. Bila mereka melakukan kegiatan apa pun, khususnya jika hendak bepergian jauh, orang-orang Mekah itu akan menghadap berhala dan bersujud di depannya, memohon berkah dan keselamatan. Itu juga yang dilakukan oleh hampir semua bangsa Arab, termasuk sebagian masyarakat Arab Kristen di daerah selatan yaitu di Najran dan Yaman dan di utara dekat perbatasa Syria.

Nestor dan Bahirah

Abdul Muththalib dan kaumnya, Quraisy yang berkuasa atas Mekah dan juga suku-suku pagan tidak memusuhi orang Kristen. Kaum Kristen yang kadangkala datang untuk memberikan penghormatan pada maqam Ibrahim diterima baik oleh Quraisy seperti yang mereka lakukan kepada tamu-tamu yang lain. Pada salah satu dinding Ka’bah, kaum Kristen bahkan diberi kehormatan membuat lukisan Perawan Maria dan anaknya, Kristus –yang gambarnya jelas-jelas lebih menarik perhatian karena berbeda dengan gambar-gambar yang lain.

Waraqah yang dapat membaca dan telah mempelajari Injil dan teologi, mampu melihat suatu janji Kristus. Janji itu secara umum oleh umat Kristen dianggap merujuk ke Mukjizat Pantekosta. Meskipun bahasa mukjizat itu tak jelas (cryptic), mukjizat itu tersirat dalam Injil Yohanes pasal 16 ayat 13 “Ia tak akan berkata tentang dirinya, namun segala yang dapat ia dengar, itulah yang akan ia katakan.” Sebagai kakak, Waraqah sering membicarakan isi Injil dengan Qutaylah adiknya. Pembicaraannya tentang akan datangnya seorang nabi dan waktu kedatangan itu tidak akan lama lagi, sangat membekas pada diri Qutaylah. Itu sebabnya, ketika melihat Abd Allah, Qutaylah meminta lelaki itu menikahinya: karena pada wajah Abd Allah seolah ada cahaya seperti yang banyak diceritakan oleh para pendahulunya tentang tand-tanda kelahiran para nabi. Sejarah membuktikan bahwa pernyataan Qutaylah kepada Abd Allah sehari setelah pria itu menikah dengan Aminah — cahaya itu tak ada lagi pada wajahnya– menjadi kenyataan, karena cahaya (kenabian) itu berpindah kepada Muhammad, putranya; yang kemudian menjadi lebih terang.

Kendati Lings tidak menyimpulkan, namun sampai pada tahap ini terungkap bahwa dari garis keturunan, Muhammad adalah keturunan orang-orang pilihan dari garis Ismail, putra Ibrahim. Dengan demikian, menurut Lings, Ibrahim bukan hanya melahirkan dua anak dari dua istri, namun dari dua anak itu pula Ibrahim melahirkan dua bangsa, dua bangsa besar yang menjadi sarana “Kehendak Langit”, yang kepada kedua bangsa itu Allah bukan saja menjanjikan kemakmuran duniawi, juga keluhuran spritiual. Dua spiritual, dua agama, dua dunia bagi Tuhan; dua lingkaran dan karena itu juga dua pusat. Itulah tempat yang disucikan bukan atas pilihan manusia, namun telah menjadi ketetapan “Kerajaan Langit”. Ada dua pusat suci yang melingkupi Ibrahim: satu di daerahnya,di Kanaan,dan satu lagi di sebelah barat Kanaan, satu lembah tandus yang berjarak empat puluh hari perjalanan unta dari Kanaan, yaitu Bakah yang kemudian dikenal sebagai Mekah.
Tentang bagaimana pribadi dan perilaku Muhammad secara lahiriah, yang tampan, santun, jujur, cerdas, dan sebagainya juga dibahas terperinci oleh Lings. Dalam konteks kenabian Muhammad dan hubungannnya dengan kaum cerdik pandai Kristen, menurut Lings bukan saja terjadi pada tahun-tahun awal menjelang kelahiran Muhammad, namun juga setelah Muhammad beranjak dewasa, terutama sejak Muhammad memulai hubungan dengan Kahdijah, sepupu Waraqah.

Di Mekah, Khadijah adalah konglomerat yang cantik. Ia berurusan dengan Muhammad kali pertama ketika dia meminta Muhammad mewakilinya melakukan jual beli ke Syiria. Muhammad setuju, dan Kahdijah menawarkan Maysarah, budaknya, untuk menemani Muhammad. Dikisahkan oleh Muhammad ibn Sa’d dalam kitab at Thabaqat al Kabir edisi Leyden Belanda, kabilah dagang Muhammad tiba di Bostra (di selatan Syria), kota yang memiliki biara dan di dalamnya dihuni oleh pendeta Kristen dari masa ke masa, Di Bostra bila seorang pendeta meninggal, ia akan digantikan oleh yang lain, dan pengganti ini mewarisi seluruh isi biara termasuk manuskrip-manuskrip kuno. Salah satu manuskrip di Bostra itu berisi tentang ramalan akan datangnya seorang nabi kepada bangsa Arab.

Di Bostra Muhammad berteduh di bawah sebuah pohon, tidak jauh dari rumah Nestor, seorang pendeta Kristen. Bertanyalah Nestor kepada Maysarah, “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon itu?” Maysarah lalu menjawab, “Dia orang Quraisy, dari keluarga penjaga Tanah Suci.” “Tidak, dia tak lain adalah seorang nabi,” kata Nestor. Jawaban Nestor itu sama dengan yang diberikan oleh Bahira, pendeta sebelum Nestor— ditempat yang sama, ketika pada usia sembilan tahun, Muhammad diajak oleh Abu Thalib sang paman berniaga ke Syria. Dibandingkan dengan Nestor, Bahirah lebih “mengenal” Muhammad, karena pada jamuan makan yang disediakannya untuk kabilah Abu Thalib itu Bahirah bahkan meminta Muhammad melepas jubahnya hanya untuk melihat punggung Muhammad.

Rahasia Namus

Keterangan pendeta Nestor itulah yang diceritakan oleh Maysarah kepada nyonyanya, sesampai mereka di Mekah. Khadijah lantas mengulang cerita Maysarah kepada sepupunya, Waraqah.”Telah lama aku tahu bahwa seorang nabi akan diutus dan saatnya kini telah tiba,” kata Waraqah.
Khadijahlah lalu melamar Muhammad untuk menjadi suaminya. Sebagai mas kawin, Muhammad membayar dua puluh ekor unta betina yang disampaikan oleh Hamzah, paman Muhammad. Ketika menikah dengan Muhammad, usia Khadijah sudah menginjak empat puluh tahun sementara itu Muhammad baru 25 tahun. Hingga masa sebelum Muhammad menerima wahyu kenabian, tak banyak riwayat yang menceritakan hubungan Muhammad dengan Khadijah.

Sejarah mencatat, pada suatu malam Muhammad yang ketakutan datang kepada Khadijah dan meminta istrinya itu untuk memeluk dan menyelimutinya. Sebelum malam itu, Muhammad adalah lelaki yang dikenal suka menyendiri dan menyepi (tahanmust) pada malam hari di gua di Bukit Hira’ tak jauh dari Mekah. Bagi orang Quraisy tahanmust bukan sesuatu yang asing dan menjadi praktik tradisional di kalangan keturunan Ismail. Muhammad melakukan itu sejak menikah dengan Khadijah hingga kejadian malam itu, tepat pada bulan Ramadhan tahun 636 Masehi: Muhammad disergap rasa takut luar biasa.

Ketika ketakutannya mereda, Muhammad menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya kepada Khadijah. Warqah yang kemudian mendapat cerita dari Kahdijah berkata bahwa yang mendatangi Muhammad adalah Namus. Dalam Bahasa Yunani Namus adalah Hukum Tuhan atau Roh. “Kudus, Kudus demi Tuhan yang menguasai jiwaku yang datang kepada Muhammad adalah Namus yang terbesar yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh dia adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkan dia!” kata Waraqah yang saat itu sudah tua dan buta, kepada Khadijah.

Buku yang ditulis oleh Lings, sepenuhnya bercerita tentang Muhammad luar dalam, yang tersirat dan yang tersurat. Efek kimia dari narasi dan komposisi bahasa dari Lings dalam buku ini membawa jantung saya seolah berhenti berdetak. Selain mengungkap peran kaum cerdik kaum Kristen, Lings juga mengungkapkan bahwa Rayhanah salah satu istri Muhammad adalah orang Yahudi dari Bani Nadhir. Dari keseluruhan isi bukunya, Lings terlihat menempatkan Muhammad sebagai sosok yang patut dipuji dan berhak menjadi nabi. Saya menduga, dalam tulisannya di Kompas Guntur juga berpendirian sama dengan Lings, sehingga tak ada yang perlu diresahkan dari tulisan Guntur itu.

PENGETAHUAN AL QUR'AN

Semua yang telah kita pelajari sejauh ini memperlihatkan kita akan satu kenyataan pasti: Al Qur'an adalah kitab yang di dalamnya berisi berita yang kesemuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah serta berita mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat diketahui di masa itu, dinyatakan dalam ayat-ayatnya. Mustahil informasi ini dapat diketahui dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masa itu. Ini merupakan bukti nyata bahwa Al Qur'an bukanlah perkataan manusia.
Al Qur'an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan dalam Al Qur'an "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Al Qur'an, 4:82) Tidak hanya kitab ini bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal informasi yang dikandung Al Qur'an semakin mengungkapkan keajaiban kitab suci ini hari demi hari.
Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satunya petunjuk hidup. Dalam salah satu ayat, Allah menyeru kita:

"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al Qur'an, 6:155)
Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menegaskan:
"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (Al Qur'an, 18:29)
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya." (Al Qur'an, 80:11-12)

ALLAH DAN ISLAM

ALLAH

Penggunaan kata Allah yang berarti Tuhan sering kali terdengar agak aneh, esoterik, dan asing bagi telinga orang Barat. Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah. Ia berarti Tuhan atau menyiratkan Satu Tuhan. Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa Semitik, dan istilah Arab Allah atau al-Ilah terkait dengan El dalam bahasa Ibrani, yang berarti Tuhan.1 El-Elohim berarti Tuhannya para tuhan atau Sang Tuhan.2 Ia adalah kata bahasa Ibrani yang dalam Perjanjian Lama diterjemahkan Tuhan. Karena itu, kita bisa memahami bahwa penggunaan kata Allah adalah konsisten, bukan hanya dengan Al-Qur'an dan tradisi Islam, tetapi juga dengan tradisi-tradisi-biblikal yang tertua.

Persamaan mendasar antara istilah Arab
al-Ilah, di mana Allah merupakan pemadatannya, dan istilah Ibrani El-Elohim bisa dipahami secara lebih jelas jika kita memerhatikan abjad bahasa Arab dan Ibrani. Baik bahasa Arab maupun Ibrani sama-sama tidak memiliki huruf untuk bunyi vokal. Abjad kedua bahasa tersebut hanya terdiri dari konsonan, dan keduanya bersandar pada penandaan sebagai bunyi vokal yang secara khas ditemukan hanya dalam tulisan formal sebagai satu petunjuk pengucapan. Transliterasi bahasa Indonesia dari istilah Arab al-Ilah dan istilah Ibrani El-Elohim telah memasukkan penandaan-penandaan vokal ini. Jika kita harus menghilangkan transliterasi Indonesia berupa penandaan-penandaan vokal ini, maka istilah Arab tersebut menjadi al-Ilh dan istilah Ibrani di atas menjadi El-Elhm. Jika kita harus menghilangkan bentuk jamak, yang hanya ditemukan dalam bahasa Ibrani, maka istilah Arabnya tetap al-Ilh, sementara istilah Ibraninya menjadi El-Elh. Akhirnya, jika kita harus melakukan transliterasi atas seluruh "alif" dalam bahasa Arab sebagai "a", dan seluruh "alif" dalam bahasa Ibrani sebagai "a" juga, maka istilah Arabnya menjadi Al-Alh, dan istilah Ibraninyapun menjadi Al-Alh. Dengan kata lain, dengan pengecualian tunggal bahwa bahasa Ibrani menggunakan bentuk jamak, al-Ilah, di mana Allah merupakan pemadatannya, dan El-Elohim, istilah Ibrani yang diterjemahkan sebagai Tuhan dalam Perjanjian Lama, benar-benar merupakan istilah yang sama sekali identik dalam bahasa Arab dan Ibrani, dua bahasa yang memiliki hubungan sangat erat.


ISLAM

Islam adalah kata Arab yang secara harfiah berarti berserah, yakni berserah diri kepada kehendak dan kuasa Allah. Namun demikian, ini bukan hanya jenis penyerahan isapan jempol. Islam mengisyaratkan kepasrahan total dari hati, pikiran, dan tindakan. Jenis penyerahan total ini menemukan ekspresinya dalam kitab-kitab suci Yahudi dari "Taurat-yang-diterima".

Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (Ulangan 6:5)

Kitab-kitab suci Kristen mempertahankan bahwa Yesus menggemakan ayat di atas (
Markus 12:30, Matius 22:37, Lukas 10:27), dan karenanya memerintahkan ketundukan total kepada Allah. Selain itu, ekspresi selanjutnya mengenai keharusan untuk pasrah kepada Allah bisa ditemukan dalam Perjanjian Baru.

Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! (Yakobus 4:7-8)

Keharusan untuk pasrah sepenuhnya kepada Allah menemukan pengungkapannya yang paling jelas dalam Al-Qur'an.

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS.3:20)

Sayangnya, sebagian besar anak-anak Israel tidak menyerahkan diri kepada Allah, yang pada awalnya dihasilkan dalam pembentukan agama Yahudi, dan kemudian dalam pembentukan agama Kristen. Dalam hal ini, Alkitab mencatat bahwa Nabi Daud AS mengucapkan kata-kata berikut sebagai wahyu dari Allah.

Akulah Tuhanmu yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku. (Mazmur 81:10-11)

Sebagai jawaban atas kegagalan untuk tunduk kepada Allah, yang dihasilkan dalam pembentukan agama Yahudi dan Kristen secara berurutan, Al-Qur'an mencatat firman Allah berikut ini.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS.3:19)

Orang yang beriman kepada, dan mempraktikkan, ajaran Islam dikenal sebagai muslim. Kata
muslim dan Islam berasal dari akar kata Arab yang sama. Muslim secara harfiah berarti orang yang pasrah atau berserah, seseorang yang sepenuhnya pasrah kepada Allah. Kepasrahan merupakan definisi utama berkenaan dengan etimologi kata Islam; ada juga definisi sekunder, yaitu kedamaian. Karenanya, hanya dengan kepasrahan total dan utuh kepada Allahlah seorang muslim benar-benar akan mengalami kedamaian spiritual.

Sementara sebagian besar non-muslim secara tipikal percaya bahwa Islam mulai muncul pada abad ke-7 M dengan dimulainya dakwah Nabi Muhammad SAW, kaum muslim sama sekali menolak anggapan ini. Mereka percaya bahwa Islam telah dimulai sejak munculnya umat manusia dengan Nabi Adam AS dan istrinya sebagai orang pertama kali melaksanakan Islam.

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (QS.20:115)

Namun demikian, kaum muslim juga percaya bahwa Islam telah diberikan kepada umat manusia sebagai wahyu yang bersifat
progressif. Sementara inti wahyu itu--bahwa tidak ada tuhan selain Allah--tidak pernah berubah sepanjang masa. Wahyu itu kemudian disempurnakan dan diakhiri dengan wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu... (QS.5:3)


Keterangan:

1. A) Toombs LE (1971) B) Schonfield HJ (1967)
2. A) Beavin EL (1971) B) Toombs LE (1971) C) Schonfield HJ (1967)

Rujukan:

- Beavin EL (1971):
Ecclesiasticus. Dalam laymon CM (1971b): The Interpreter's One-Volume Commentary on the Bible. Nashville, Abingdon Press, 1971.
- Schonfield HJ (1967):
Reader's A to Z Bible Companion. New York, New American Library.
- Toombs LE (1971):
The Psalms. Dalam Laymon CM (1971b): The Interpreter's One-Volume Commentary on the Bible. Nashville, Abingdon Press, 1971.

TUKANG FITNAH DAN SEORANG GADIS

Ada seorang tukang fitnah yang jatuh cinta kepada seorang gadis tetangganya. Suatu hari, keluarga gadis itu mengutusnya ke kampung lain untuk suatu keperluan. Mengetahui hal itu si tukang fitnah pun mengikutinya, lalu melontarkan bujuk rayunya kepada wanita itu.

Gadis itu berkata, "Jangan kau lakukan ini! Sebenarnya cintaku padamu melebihi cintamu kepadaku, akan tetapi aku takut kepada Allah SWT."

Laki-laki itu berkata, "Kau takut pada Allah, sementara aku tidak takut kepada-Nya?" Akhirnya laki-laki itu pulang dengan perasaan penuh tobat kepada Allah SWT. Dalam perjalanannya ia didera rasa haus yg mencekik tenggorokannya. Dalam kondisi kritis itu tiba-tiba dia bertemu dengan utusan dari seorang nabi Bani Israil dan ditanya, "Mengapa kau ini?"

"Haus," jawabnya.
Utusan itu berkata, "Ke sinilah, kita berdoa kepada Allah agar awan menaungi kita hingga sampai tujuan."
Laki-laki tukang fitnah itu berkata, "Aku tidak mempunyai amal kebajikan."
Utusan nabi itu berkata, "Aku yg berdoa dan engkau tinggal mengaminkan."
Berdoalah utusan itu dan si tukang fitnah itu mengaminkannya.
Tidak lama kemudian datang awan menaungi mereka hingga mereka tiba di kampung tujuan. Setelah sampai, si tukang fitnah memasuki rumahnya, sedangkan awan itu mengikutinya. Sebelum utusan itu pulang dia berkata, "Engkau telah mengaku tidak mempunyai amal kebajikan, padahal ketika aku berdoa dan engkau mengaminkannya, serta merta awan itu menaungi kita, kemudian aku mengikutimu agar engkau memberitahuku apa sebenarnya yg telah terjadi denganmu."

Lalu tukang fitnah itu menceritakan kisahnya kepada utusan itu. Maka berkatalah utusan nabi itu, "Orang yg bertobat kepada Allah mendapat kedudukan yg tidak seorangpun menyamai kedudukannya."

AYAT-AYAT IRRASIONAL DALAM ALKITAB

Berikut ini beberapa contoh ayat-ayat Alkitab yang tidak masuk akal (irrasional), yang menunjukkan bahwa ayat-ayat di bawah ini sama sekali bukan firman Tuhan, tetapi merupakan karya tulis tangan manusia yang kurang profesional:

1. Anak lebih tua 2 tahun daripada ayahnya.

Dalam 2 Tawarikh 21:5,19-20, dikatakan bahwa Yoram berusia 32 tahun pada waktu menjadi raja dan memerintah Yerusalem, lalu meninggal karena penyakit pada tahun kedelapan masa pemerintahannya, yang berarti ia meninggal pada usia 40 tahun. Sementara itu, dalam 2 Tawarikh 22:1-2, setelah Yoram meninggal, ia digantikan oleh Ahazia, anaknya yang berusia 42 tahun. Jadi, Ahazia lebih tua 2 tahun daripada ayahnya.

Yoram berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem ... Beberapa waktu berselang, kira-kira sesudah lewat dua tahun, keluarlah ususnya karena penyakitnya itu, lalu ia mati dengan penderitaan yang hebat. Rakyatnya tidak menyalakan api baginya seperti yang diperbuat mereka bagi nenek moyangnya. Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja. (2 Tawarikh 21:5,19-20)

Lalu penduduk Yerusalem mengangkat Ahazia, anaknya yang bungsu, menjadi raja menggantikan dia, karena semua anaknya yang lebih tua umurnya telah dibunuh oleh gerombolan yang datang ke tempat perkemahan bersama-sama orang-orang Arab. Dengan demikian Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri. (2 Tawarikh 22:1-2)


2. Usia 11 tahun sudah punya anak.

Dalam 2 Raja-raja 16:2, dikatakan bahwa Ahas berumur 20 tahun ketika naik menjadi raja dan memerintah kerajaan selama 16 tahun. Sepeninggal Ahas, tahta kerajaan diganti oleh Hizkia, anaknya (2 Raja-raja 16:20). Smentara itu, dalam 2 Raja-raja 18:2, dijelaskan bahwa umur Hizkia ketika menggantikan ayahnya menjadi raja adalah 25 tahun. Jadi, dalam usia 11 tahun Ahas sudah punya anak??!!


Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya, (2 Raja-raja 16:2)

Kemudian Ahas mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. Maka Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. (2 Raja-raja 16:20)

Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. (2 Raja-aja 18:1-2)


3. Tuhan salah hitung.

Dalam Kejadian 46:8-15, daftar nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir berjumlah 34 nama, tetapi pada ayat 15 disebutkan: "Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah 33 jiwa." Pakai Tuhan tidak pandai berhitung??

Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub beserta keturunannya. Anak sulung Yakub ialah Ruben. Anak-anak Ruben ialah Henokh, Palu, Hezron dan Karmi. Anak-anak Simeon ialah Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin dan Zohar serta Saul, anak seorang perempuan Kanaan. Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari. Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul. Anak-anak Isakhar ialah Tola, Pua, Ayub dan Simron. Anak-anak Zebulon ialah Sered, Elon dan Yahleel. Itulah keturunan Lea, yang melahirkan bagi Yakub di Padan-Aram anak-anak lelaki serta Dina juga, anaknya yang perempuan. Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah tiga puluh tiga jiwa. (Kejadian 46:8-15)

KEBOHONGAN NATAL 25 DESEMBER

SEJARAH NATAL

Kata
natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih - yang mereka sebut Tuhan Yesus.

Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325 - 354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Kelahiran Yesus Menurut Bibel

Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1:8 dan Matius 2:1, 10, 11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).

Lukas 2:1-8:

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
Demikian juga Yusuf pergi dan kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.
Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat yang bagi mereka di rumah penginapan.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
Jadi, menurut Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam Ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertugas ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut
Matius 2:1, 10, 11:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya.
Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintahkan tahun 37 SM - 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.

Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci
Al Qur'an telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa alaihissalam).
"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu". (Surat Maryam: 23-25).
Jadi menurut Al Qur'an Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible - seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23) : Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus - September.

Sementara itu Uskup Barns dalam
Rise of Christianity - seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:
There is, moreover, no authority for the belief than December 25 was the actual birthday of Jesus. If we can give any credence to the bith-story of Luke, with the shepherds keeping watch by night in the fields near Bethlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, when the night temperature is so law in the hill country of judea that snow is not uncommon. After much argument our christmas day seems to have been accepted about A.D. 3000.

(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Behtlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pengunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 200 Masehi).
Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?

Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (sudah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi - 14 Sesudah Masehi.
** Sedangkan Matius 2:1 (juga telah dikutip) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi - 4 sesudah Masehi.

Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah masehi. Antara lain kita kutip buku tulisan rev. Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. yang berjudul
The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:
In the nineteehnt century, when it became evident and was finally admitted that Herod died in the year 4 B.C. and it was recalled that, according to story in Matthew's Gospel (2:16), King Herod, in order to eliminate little Jesus as a possible "King of the Jews", had ordered all infants of two years old and under to be killed, the birth-date of Jesus 0bviously had to be moved back to 4 B at least. Today, scholars prefer 5 to 6 B as the date best accomodating the indonsistent and even cont5radictory traditions, legens, and gospels, although some historians push the date back to 8 and 10 b.C. The problem of the correct dating of Jesus' birth, life, and death has now been raised again (due to several statemensin these Essence Scrolls) along with the related question on the deity.

(Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diajui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus yang masih bayi yang katanya bakal jadi raja orang-orang Yahudi, maka jelaslah tanggal lahir Yesus harus digeser ke belakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun ke belakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanannya juga harus dibangkitkan kembali).

Jadi sampai hari inipun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.

Asal usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke 4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus).

Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan: Pertama, hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus, untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.

Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?

Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuni di dalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).

H.W. Armstrong dalam bukunya
The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God, California USA, 1994, menjelaskan:
Namrud cucu Ham. Anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nirod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kota "Marad" yang artinya: "Dia membangkang atau Murtad" antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama "Semiramis".

Namun usia Namrud tidak sepanjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati Semiramis menyebarkan ajaran, bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpamaan pohon "Evergreen" yang tumbuh dari sebatang kayu mati.

Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal-usul pohon Natal.

Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai "Ratu Langit" oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai "anak suci dari surga".
Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi "Mesiah palsu", berupa dewa "Ba-al" anak dewa matahari dengan obyek penyembahan "Ibu dan Anak" (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa "Isis dan Osiris", di Asia bernama "Cybele dan Deoius", di Roma disebut "Fortuna dan Yupiter". Bahkan di Yunani, "Kwan Im" di Cina, Jepang, dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa "Madonna" dan lain-lain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal
25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa).

1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.

2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.

3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.

4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana?an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.

5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir Kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besar dan dijadikan sebagai pesta rakyat.

Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus,Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh
perawan, antara lain Zrates (Bangsa Persia) dan Fo Hi (Bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Solulus, Aristonicus, Tibarius, Grocesus, Yupiter, Minersa, Easter.

Jadi, konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba.

Konsep/dogma agama bahwa yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat
Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada jemaat di Roma.
Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa ? (Roma 3:7).
Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu. Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:

Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang?. (Matius 24:4-5).

Pandangan Bibel Tentang Upacara Natal

Untuk mengetahi pandangan Bibel tentang perayaan Natal yang diwarisi dari tradisi paganisme, baiklah kita telaah
Yeremia 10:2-4:
"Beginilah firman Tuhan: "Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak, orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang."
Demikianlah pandangan Bibel tentang upacara Natal, yaitu melarang orang Kristen mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala.

Selanjutnya mari kita simak penjelasan dalam
Yeremia 10:5:
"Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun. Tidak dapat berbicara, orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun dia tidak dapat."
Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal

1. Catholic Encyclopedia, edisi 1911 tentang Chrismas:
"Natal bukanlah upacara gereja yang pertama ... melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."
Dalam buku yang sama, tentang "Natal Day" dinyatakan sebagai berikut:
"Di dalam kitab suci tidak ada seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir'aun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."
2. Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan:
"Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambi oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.'
3. Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944, menyatakan:
"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut". (Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus) ... Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari". Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus."
Keterangan:

** Jika kita menerima keterangan Injil Lukas, maka Yesus dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi. Hal ini didasarkan pada keterangan Injil Lukas yang menempatkan pembaptisan Yesus pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Roma Tiberius, dan saat Pontius Pilatus menjadi pejabat gubernur Yudaea (Lukas 3:1), dan bahwa Kaisar Tiberius menggantikan Kaisar Agustus pada tahun 14 Masehi,* maka Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis pada tahun 29 Masehi, yakni ketika Yesus berumur kira-kira 30 tahun (Lukas 3:23). Ini berarti, Yesus dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi.

my mixpod

By :
Free Blog Templates